Supandi

Sebagaimana diungkapkan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kab. Blitar, Supandi, meski produktifitas tembakau di Kab. Blitar hampir setiap tahun mengalami peningkatan, namun petani tembakau masih kesulitan memasarkan produksi tembakau. Pasar lokal masih dianggap kurang menjanjikan, mengingat beberapa pabrik rokok yang masih bertahan hanya memproduksi dalam skala kecil, sehingga mayoritas tembakau Kab. Blitar banyak dijual ke luar daerah seperti Malang. Namun demikian petani tembakau Kab. Blitar masih harus bersaing dengan petani tembakau daerah lain untuk bisa memasarkan hasil tembakaunya. Lebih lanjut menurut Supandi, harga tembakau sendiri sempat anjlok  pada tahun 2012 lalu karena over produksi, sedangkan beberapa pabrik rokok menolak membeli karena masih memiliki stok. Terkait dengan hal ini, Dishutbun belum bisa berbuat banyak untuk mengupayakan pemasaran tembakau secara berkelanjutan ke pabrik-pabrik rokok berskala besar. Selama ini dinas hanya sebatas memberikan pembinaan peningkatan produktifikas tembakau saja, oleh karena itu, untuk menghindari kondisi serupa terjadi, pihaknya meminta agar petani tembakau membatasi kuantitas produksi dengan tidak menambah lahan penanaman tembakau. Selain itu yang terpenting yaitu meningkatkan kualitas tembakau untuk menaikkan harganya di pasaran.

Selama ini kawasan  pertanian tembakau di Kab. Blitar hampir menyebar di semua kecamatan, namun utamanya terkonsentrasi di Kecamatan Selopuro, Gandusari, Wlingi, dan Talun. Rata-rata produksi tembakau di Kabupaten Blitar mencapai 2.850 kg/ha untuk tembakau lokal dan 2.900 kg/ha untuk tembakau virgin. (IRMA)