|
POINT KEBERHASILAN BUPATI BLITAR MASA JABATAN TAHUN 2006 – 2010
Bidang Pengentasan Kemiskinan : Melalui berbagai program, kegiatan dan kebijakan mampu meminimalisir angka kemiskinan. Sebagaimana hasil Pendataan Sosial Ekonomi (PSE) 2005 diketahui bahwa di Kabupaten Blitar terdapat 30.499 Rumah Tangga SANGAT MISKIN, 41.428 Rumah Tangga MISKIN dan 6.254 Rumah Tangga HAMPIR MISKIN. Menurut hasil PPLS 2008 yang kembali diverifikasi tahun 2009, angka RTM dengan kategori sangat miskin jauh berkurang, dari 30.499 Rumah tangga sangat miskin menjadi 11.711 rumah tangga sangat miskin. Hal yang sama juga terjadi pada rumah tangga miskin, pada PSE 2005 berjumlah 41.428 rumah tangga menjadi 35.633 rumah tangga miskin pada hasil PPLS tahun 2008. Sebaliknya, jumlah rumah tangga dengan kategori hampir miskin mengalami peningkatan pada hasil PPLS 2008 yaitu sejumlah 35.010 rumah tangga hampir miskin daripada hasil PSE 2005 sejumlah 6.254. Hal ini membuktikan bahwa jumlah penduduk yang sangat miskin dan miskin mengalami peningkatan kondisi perekonomian sehingga bergeser menjadi hampir miskin. Bila dihitung dengan satuan jiwa, pada akhir tahun 2009 penduduk miskin di Kabupaten Blitar tinggal 136.750 jiwa dari keseluruhan jumlah penduduk atau 10,8%. Bidang Ketenagakerjaan : Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) terus menurun. Tahun 2006 TPT adalah 5,63%, pada tahun 2007 4,54%, pada tahun 2008 turun menjadi 4,36%, pada tahun 2009 3% dan tahun 2010 tinggal 2,3%. Artinya hanya 2,3% dari jumlah penduduk Kabupaten Blitar yang benar-benar tidak memiliki pekerjaan. Disamping Tingkat pengangguran Terbuka, Upah Minimum kabupaten (UMK) juga terus mengalami peningkatan, pada tahun 2007 Upah Minimum Kabupaten (UMK) kabupaten Blitar berjumlah Rp.409.200,-/bulan meningkat 62,47% sehingga pada tahun 2010 mencapai Rp. 655.000,-/bulan. Bidang Pendidikan ; tahun 2006 di Kabupaten Blitar masih terdapat 8.677 orang buta huruf, melalui berbagai program antara lain wajar 9 tahun dan Kejar Paket A sampai C, pada tahun 2009 Kabupaten Blitar telah bebas buta huruf usia 10 – 44 Tahun. Tingkat kelulusan, pada tahun 2010 untuk tingkat SD telah mencapai 100%, untuk SMP 93,14%, sedangkan tingkat SMA mencapai 94,92%. Selama 5 tahun masa kepemimpinan telah dilakukan pembangunan ruang kelas baru sebanyak 207 ruang, rehabilitasi ruang sekolah sebanyak 968 unit. Telah dibangun pula 117 unit laboratorium IPA dan multimedia, serta dibukanya 2 Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yaitu SMPN 1 Kesamben dan SMAN 1 Talun. Bidang Kesehatan : Angka harapan hidup tahun 2006 berada pada angka 70 tahun, dan terus meningkat setiap tahunnya hingga pada tahun 2010 mencapai angka 72 tahun. Akses masyarakat miskin terhadap pelayanan kesehatan, salah satunya dapat dilihat dari pertambahan jumlah pemegang Askeskin. Tahun 2006 jumlah pemegang Askeskin berjumlah 64.703, berkembang setiap tahunnya hingga pada tahun 2010 berjumlah 257.070 orang. Pada tahun 2010, angka kematian bayi hanya 12,01 per 1.000 Kelahiran Hidup jika dibandingkan dengan angka kematian bayi tingkat nasional yang mencapai 24 per 1.000 Kelahiran Hidup, dan angka kematian ibu melahirkan hanya 83,92 kematian per 100.000 kelahiran hidup bila dibandingkan dengan indikator yang sama di tingkat nasional yang mencapai 118 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Bidang Perkonomian : Kondisi perekonomian secara makro dapat dilihat dari pergerakan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dan pendapatan Perkapita Penduduknya. Nilai PDRB Kabupaten Blitar terus bergerak naik sejak tahun 2006 sehingga meningkat dari Rp. 7.637.803.300,- menjadi Rp. 11.011.362.010,- pada tahun 2009 untuk PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (PDRB ADHB). Sedangkan Pendapatan Perkapita Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) pada tahun 2006 adalah Rp. 6.695.076,- meningkat hingga mencapai Rp. 9.410.946,- pada tahun 2009. PDRB Kabupaten Blitar masih didominasi oleh sector Pertanian (Peternakan dan tanaman pangan), dengan kontribusi sebesar 45,85% walaupun terjadi pergeseran dengan sector Perdagangan, Hotel dan Restoran. Secara umum, kondisi perekonomian Kabupaten Blitar selama lima tahun dapat dikatakan cukup bagus. Berdasarkan data dari BPS Kabupaten Blitar, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Blitar selama periode 2005-2009 berturut-turut sebesar 5,18 persen (2005); 5,38 persen (2006); 5,78 persen (2007); 6,04 persen (2008); 5,83 persen (2009) Bidang Infrastruktur : yang merupakan urat nadi perekonomian masyarakat Kabupaten Blitar selama kurun waktu 5 tahun telah dibangun 470Km jalan Hotmix, 457Km jalan aspal, 16Km jalan makadam, 16 buah jembatan, 64 Km jalan aspal mandiri, 10Km drainase jalan, 96 Buah Pintu Air Irigasi. Juga telah dilakukan perbaikan dan pemeliharaan terhadap 1.700 Km jalan, 52 jembatan, 39,43 Km sistem Penerangan jalan Umum (PJU), 109 Dam air, 89 Km Saluran Irigasi, dan 6,7 Km Talud Pengaman Saluran. Bidang Sosial Politik, Perlindungan Masyarakat, Ketentraman dan Ketertiban dan Keluarga Berencana: Meningkatnya budaya dan kecerdasan politik masyarakat yang terbukti dengan lancarnya pelaksanaan Pilkades, Pemilu Legislatif, pemilu Presiden, pemilihan Gubernur Jawa Timur dan Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati . Tidak adanya permasalahan politik dan sosbud yang berpengaruh signifikan terhadap pelaksanaan pemerintahan daerah. Upaya penanggulangan penyakit masyarakat (Pekat) semakin meningkat baik secara kuantitatif maupun kualitatif sehingga tercipta lingkungan yang kondusif bagi pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan daerah. Selama tahun 2006 – 2010, telah banyak prestasi diraih di berkat keberhasilan Kabupaten Blitar di Bidang KB. Terakhir Penghargaan Satya Lencana Wirakarya berhasil diraih atas keberhasilan Program Keluarga Berencana di Kabupaten Blitar. Di Bidang Sosial, khususnya penanggulangan Penyakit Masyarakat (Pekat) berhasil diterbitkan Perda Nomor 15 Tahun 2008 tanggal 19 Desember 2008 tentang Pelarangan Prostitusi dan Penanganan Wanita Tuna Susila (WTS) dan Pria Tuna Susila (PTS). Bidang Pengendalian Sumber Daya Alam, Pelestarian Lingkungan Hidup, dan Penataan Ruang : Berhasilnya penanganan lahan kritis di kabupaten Blitar yang pada tahun 2004 mencapai luas 19.283 Hektar. Melalui Gerhan, pada tahun 2009 jumlah lahan kritis yang belum tertanggulangi hanya tinggal 9.038 Hektar. Artinya lahan kritis yang telah berhasil ditanggulangi adalah seluas 10.245 Hektar. Juga diraihnya penghargaan Adipura 3 tahun berturut-turut sejak tahun 2008. Dari sisi tata ruang, rencana pengelolaan wilayah Kabupaten Blitar telah direalisasikan melalui Perda nomor 5 Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten Blitar sesuai dengan UU Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Perda tersebut menjadi dasar dalam memantapkan rencana pemindahan Ibukota Kabupaten Blitar ke Kecamatan Kanigoro yang kajiannya telah dilaksanakan pada tahun 2007-2008, maka dengan terbitnya PP Nomor 3 tahun 2010 ditetapkanlah pemindahan Ibukota Kabupaten Blitar dari wilayah Kota Blitar ke Wilayah Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar. Pelaksanaan Otonomi Daerah : Telah dilaksanakan penataan kelembagaan sebagaimana diamanatkan oleh berdasarkan PP nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah semaksimal mungkin sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat Kabupaten Blitar. Pemerintah Daerah Kabupaten Blitar termasuk di dalam daerah yang diperkenankan memiliki struktur organisasi dengan jumlah maksimal. Namun demikian dengan pertimbangan dan tujuan “miskin struktur kaya fungsi” Kabupaten Blitar hanya membentuk :
Pelayanan Umum : Berlatar belakang keinginan untuk memberikan pelayanan perijinan yang mudah, cepat, dan murah juga untuk menjawab tantangan dunia usaha akan pentingnya deregulasi proses perijinan sebagai salah satu daya tarik utama bagi investor agar mau menanamkan modalnya di Kabupaten Blitar. Maka dengan Peraturan Daerah Nomor 1 tahun 2008 tanggal 5 Pebruari 2008 dibentuklah Kantor Pelayanan Terpadu Satu Pintu (KPTSP) Kabupaten Blitar. Selain itu, selaras dengan tuntutan masyarakat akan layanan kesehatan yang baik, memadai dan terjangkau, RSUD Ngudi Waluyo Wlingi dengan Keputusan Bupati Blitar Nomor 180/255/409.012/KPTS/2008 berubah statusnya menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) . Untuk mengukur tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan oleh pemerintah daerah dalam berbagai bidang, telah dilakukan survey indipenden Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) oleh PT Surveyor Indonesia dengan hasil :
- IKM terhadap infrastruktur jalan dan jembatan 78,35 (Baik) - IKM terhadap Infrastruktur Jaringan Telepon 73,08 (Baik) - IKM terhadap Infrastruktur PJU 78,76 (Baik), dan - IKM terhadap Infrastruktur Jaringan Air Bersih 73,89 (Baik) Bidang Pengembangan Periwisata : Pengembangan pariwisata di Kabupaten Blitar terutama difokuskan pada pengembangan Kompleks Candi Penataran yang pada tanggal 3 Mei tahun 2010 telah ditetapkan sebagai Landmark dan Icon Kabupaten Blitar oleh Wakil Presiden RI. Setiap bulan Agustus sebagai salah satu rangkaian Hari Jadi Kabupaten Blitar yang juga merupakan salah satu daya tarik wisata, digelar acara sendra tari Gelar Pesona Bumi Penetaran. Setiap bulannya diselenggarakan pula Pergelaran Purnama Seruling Penataran yang diharapkan mampu menarik minat wisatawan baik domestic maupun mancanegara sebagai event yang layak untuk dijadwalkan dalam kunjungan wisata ke Jawa Timur. Selain Kompleks Candi Penataran, kabupaten Blitar juga memiliki banyak potensi pariwisata, antara lain pesisir/pantai sepanjang garis selatan Wilayah Kabupaten Blitar yang dimasa mendatang akan terus diupayakan pengembangannya secara maksimal.
|
|