KETAHANAN PANGAN INGATKAN SOAL BAHAYA PANGAN

Upload by - Selasa, 28 Mei 2013

Badan Ketahanan Pangan tidak bosan untuk selalu mengingatkan masyarakat terkait bahaya makanan yang sering dikonsumsi, baik melalui penyebaran pamflet, booklet, sosialisasi bahkan melalui uji kesehatan makanan yang bekerjasama dengan BPOM. Hasilnya, dari 62 jenis makanan yang dijadikan sampel, 19 diantaranya mengandung rhodamin, formalin dan tidak layak konsumsi. Demikian ungkapan Kepala Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Blitar, Indra Gunawan di ruang kerjanya, Senin (27/5).
Menurutnya, dari 19 makanan yang mengandung bahan berbahaya itu, 14 mengandung rhodamin B dan 5 mengandung boraks. Bahan berbahaya ini terkandung dalam krupuk upil merah, krupuk rambak, krupuk pasir. Ciri-ciri makanan yang mengandung boraks antara lain; teksturnya kental, lebih mengilat, pada krupuk teksturnya renyah dan bisa menimbulkan rasa getir. Sementara makanan yang mengandung rhodamin B cirinya adalah berwarna merah menyolok dan cenderung berpendar, memberikan titik-titik warna karena tidak homogen. Rhodamin ini biasanya digunakan oleh industri tekstil. Bahayanya jika terhirup mengenai kulit, mengenai mata dan tertelan. Akibatnya bisa menimbulkan iritasi kulit, pencernaan bahkan bisa menimbulkan kanker hati. Untuk itu, pihaknya meminta makanan harus bebas dari bahaya biologis, bahaya kimia dan bahaya fisik.
Orang nomor satu di Badan Ketahanan Pangan ini juga menuturkan tentang jenis kemasan yang aman untuk pangan. Masyarakat diminta mengenali 7 kode angka pada kemasan plastik , yakni; PET atau PET. Ini biasanya kemasan dengan bahan jernih dan transparan. Umunya dipakai pada botol jus, air mineral. Kode 1-PET direkomendasikan hanya sekali pakai. Yang kedua HDPE, bahan baku plastik ini aman karena tidak bereaksi terhadap makanan atau minuman. Biasanya terdapat pada botol susu, kursi lipat, galon air. Kendati demikian juga tidak untuk dipakai berungkali. Ke-3 yaitu PVC, bahan ini berbahaya karena sulit didaur ulang. Selanjutnya kode LDPE sifatnya kuat, agak tembus cahaya, fleksibel dan permukaannya agak berlemak. Pada suhu dibawah 60 derajat celcius sangat resisten terhadap senyawa kimia, dapata didaur ulang. Ke-5 PP, kamasan ini terbuat dari polypropylene, biasanya ditemukan pada botol transparan tetapi tidak terlalu jernih atau berawan. Makanya plastik jenis ini aman untuk kemasan makanan dan minuman. Ke-6 dengan kode PS (polystyrene) yakni aromatik yang dapat mengeluarkan bahan styrene kedalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Dan yang terakhir kode other. Kandungannya antara lain styrene acrylonitrile (SAN), acrylonitrile butadiene styrene (ABS), polycarbonate (PC) dan nylon. Kandungan PC ini berpotensi merusak sisitem hormon, kromosom pada ovarium, dan mengubah fungsi imunitas.
Ditambahkan pula, masyarakat diharapkan membatasi penggunaan bahan tambahan makanan yang berlebih diantaranya; pemanis, pewarna, pengawet, penguat rasa, pengeras, pengemulsi, antioksidan, pengental. Sepertu yang diketahui, bahan tambahan makanan adalah bahan yang ditambahkan dengan sengaja kedalam makanan dalam jumlah kecil untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan.

Idul Fitri Stok Pangan di Kabupaten Blitar Aman

Dalam kesempatan yang sama, Indra Gunawan juga menjelaskan, menjelang puasa, lebaran Idul Fitri Agustus mendatang stok pangan di Kabupaten Blitar aman. Bahkan pasca hari besar tersebut kebutuhan sembilan bahan pokok masih cukup untuk memenuhi kebutuhan warga Kabupaten Blitar. Karena Kabupaten yang memilki 22 kecamatan ini masih surplus rata-rata sekitar 139 ton per tahun atau ada kenaikan sekitar 25,67% melebihi rata-rata nasional. Sementara Kab. Blitar berkontribusi terhadap Provinsi Jatim sebesar 2,49 persen. (humas)