PERMINTAAN MENINGKAT, PETANI BLITAR SIAP KEMBANGKAN TEMBAKAU NIKOTIN RENDAH

Upload by - Kamis, 05 September 2013

Permintaan bahan baku industri rokok (tembakau) setiap tahun mengindikasikan bahwa jumlah perokok mengalami peningkatan pada setiap tahunnya. Dengan meningkatnya permintaan bahan baku industri rokok (tembakau) merupakan peluang yang berpotensi bagi petani tembakau untuk berupaya meningkatkan produktifitasnya menuju hasil tembakau yang berkadar nikotin rendah, sehat, dan berdaya saing sesuai dengan permintaan pasar. Hal ini mengemuka saat Wakil Bupati Blitar, H. Rijanto memberikan sambutan dalam acara temu lapang (farm field day) Panen Raya Tembakau kegiatan Sekolah Lapang Pengelolaan Sumber Data dan Tanaman Terpadu (SLPTT-Tembakau), Dem Pengembangan area tembakau dan panen-pasca panen tembakau (DBHCHT) di Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Rabu (4/9). Usai panen tembakau, secara simbolis orang nomor dua di Kabupaten Blitrar ini juga menegaskan, berdasarkan Peraturan menteri Keuangan RI No.20/PMK.07/2009 dan Peraturan Gubernur Jawa Timur serta Bupati Blitar tentang pedoman petunjuk teknis penggunaan DBHCHT antara lain untuk mendorong pembudidayaan tembakau berkadar nikotin rendah. Kendati tidak dipungkiri, hambatan yang terjadi yakni pengetahuan, keterampilan petani tembakau masih relatif kurang, dan perlu untuk ditingkatkan. Untuk itu melalui kegiatan kali ini, diharapkan akan mampu mengatasi hambatan tersebut. Lebih lanjut Wabup meminta, kegiatan bisa lebih fokus pada penguatan kelembagaan petani tembakau dan intensifkan budidaya tembakau sehingga kedepan petani tembakau akan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraannya. Kepada penyuluh, Wabup berharap, meningkatkan pendampingan agar para petani mampu menerapkan rekomendasi teknologi budidaya yang sesuai dengan SOP yang telah ditetapkan. Berdasarkan data FAO, Indonesia merupakan pengahasil tembakau dunia peringkat ke-8 setelah Cina, USA, India, dan Brazilia. Sedangkan Kabupaten Blitar sampai dengan Tahun 2011 menghasilkan produksi rata-rata per-tahun mencapai kurang lebih 690,16 ton (tembakau kering) baik yang dihasilkan dari tembakau lokal mapun tembakau hibrid dari PT. Sadhana Arifnusa dan UD. Supianto. Kabupaten Blitar memiliki 12 kecamatan yang berpotensi mengahasilkan tembakau serta 3 wilayah pengembangan yakni; Wates, Panggungrejo, dan Kademangan. Tahun 2013, petani tembakau mengalami penurunan hasil panen karena anomali iklim, dengan luas sekitar 175 ha dari tahun 2012 yang hanya 750 ha. Berarti tahun ini luas tanaman tembakau menjadi 575 ha. (Humas)