MENJAGA OLAHRAGA TRADISIONAL
Upload by - Jum'at, 06 September 2013
Kendati puncak peringatan Hari Jadi Blitar ke-689 beberapa waktu lalu telah dilaksanakan di Pendopo Ronggo Hadinegoro, Senin (5/8), namun gaung peringatan hari bersejarah tersebut masih terasa. Ini terlihat, Jumat (6/9) di Halaman Kantor Bupati Blitar beberapa kegiatan olahraga tradisional digelar dan dilombakan. Peserta seluruh SKPD Lingkungan Pemerintah Kabupaten Blitar. Tujuan dari kegiatan ini selain memeriahkan Hari Jadi Blitar juga mempererat rasa kerjasama, persaudaraan antar instansi. Ini disampaikan Suwandito, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata.
Olahraga tradisonal yang dilombakan antara lain; egrang estafet dengan peserta putra dan terompah peserta putri yang beranggotakan 5 orang. Dalam kegiatan ini juara bukanlah tujuan utama, melainkan sportifitas sekaligus menjaga tradisi , budaya olahraga tradisonal jangan sampai hilang.
Egrang adalah permainan tradisional Indonesia yang belum diketahui secara pasti dari mana asalnya, tetapi dapat dijumpai di berbagai daerah dengan nama berbeda-beda seperti: sebagian wilayah Sumatera Barat dengan nama Tengkak-tengkak dari kata Tengkak (pincang), Ingkau yang dalam bahasa Bengkulu berarti sepatu bambu dan di Jawa Tengah dengan nama Jangkungan yang berasal dari nama burung berkaki panjang. Egrang sendiri berasal dari bahasa Lampung yang berarti terompah pancung yang terbuat dari bambu bulat panjang. Dalam bahasa Banjar di Kalimantan Selatan disebut batungkau. Egrang terbuat dari batang bambu dengan panjang kurang lebih 2,5 meter. Sekitar 50 cm dari bawah, dibuat tempat berpijak kaki yang rata dengan lebar kurang lebih 20 cm. Disejumlah daerah, umumnya permainan dilakukan sebagai adu ketahanan keseimbangan tubuh. Namun didaerah lainnya, permainan egrang ataupun jajangkungan dilakukan sebagai adu ketahanan fisik, strategi, dan konsentrasi karena harus memainkan egrang atau jajangkungan berupaya menjatuhkan lawannya. Sedangkan permainan trompah adalah permainan olahraga tradisional yang mempergunakan kayu panjang dengan ukuran tertentu sebagai alat mengadu kecepatan dengan menempuh jarak yang telah ditentukan. Permainan ini dilakukan oleh tiga atau lima orang dalam sepasang terompah. (Humas)