TINGKATKAN KUALITAS KOI BLITAR, KKP APLIKASIKAN PAKAN WARNA BALITBANGDIAS
Upload by - Selasa, 02 Desember 2014
Blitar – Indonesia harus dapat mengoptimalkan potensi berbagai komoditas ikan hias yang dimiliki masing-masing wilayah denagn cara membuat sentra-sentra ikan hias nasional. Ini juga dalam rangka menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. Berbagai aspek produksi mulai dari kuantitas, kontinuitas sampai kualitas produk yang dihasilkan menjadi syarat wajib yang harus diperhatikan. Tujuannya agar menjaga sektor akuabisnis ikan hias Indonesia di pasar domestik maupun internasional. Untuk membantu kegiatan produksi di masyarakat, khususnya di sentra-sentra ikan hias, IPTEK diperlukan guna menjawab permasalahan dan daya saing produk yang dihasilkan. Demikian ungkapan Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Budidaya (P4B), Dr.Ir. Tri Heru Prihadi,M.Sc melalui releasenya yang dikirim pada kegiatan bertajuk, meningkatkan sinergitas dalam pengembangan ikan hias koi Badan Litbang KKP di kawasan raiser Candi Penataran, Selasa (2/12).
Terkait hal itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balitbangdias gencar melakukan pendampingan dan perbaikan teknologi melalui diseminasi hasil litbang teknologi budidaya ikan hias di masyarakat. Anjang Bangun Prasetio, Kepala balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias menyatakan, pendampingan pembudidaya di Blitar merupakan tindak lanjut dari hasil penelitian formulasi pakan warna Balitbangdias pada Tahun 2013 yang mampu meningkatkan kualitas warna ikan hias koi hingga 72%. Pada tahun 2014 upaya ini berlanjut pada uji pakan dan aplikasi formulasi serta pembuatan pakan yang 95% bahan bakunya dari Blitar dengan harapan tidak menyulitkan pembudidaya untuk memperolehnya. Bahan baku itu antara lain; bungkil kedelai, dedak jagung, kopra dan tepung ikan. Pada tahap selanjutnya pembudidaya diberikan keterampilan dalam hal pembuatan pakan besereta penyusunan formulasinya. Dengan memanfaatkan mesin pellet yang ada, dalam 1 jam dapat memproduksi pakan 150 kg.
Sementara itu, Pamudji Ketua Pokdakan Mina Brawijaya menjelaskan, biasanya ikan hias koi Grad III per ekor hanya 8 ribu rupiah, dengan kualitas koi dapat dijual seharga 11 ribu rupiah.
Wakil Bupati Blitar, H. Rijanto mengungkapkan, melihat hasil ikan koi dengan perkembangannya tersebut, teknologi yang dimiliki Balitbangdias dapat diadopsi secara luas oleh masyarakat Blitar. Dengan banyaknya spesies ikan hias yang dimiliki Indonesia, diharapkan dapat mengembangkan komoditas ikan hias lainnya yang berpotensi ekspor di wilayah Blitar. Saat ini luas wilayah budidaya ikan hias sekitar 850 ha dan didayagunakan sekitrar 282 Ha atau sekitar 33,2 persen. Menurutnya ini peluang usaha yang menjanjikan. Kedepan diharapkan, tidak hanya teknologi pakan untuk kualitas warna saja tetapi teknologi untuk pengembangan komoditas ikan hias yang berpotensi ekspor lainnya dapat dikembangkan di Kabupaten Blitar.
Seperti diketahui Kabupaten Blitar merupakan kabupaten ke-8 yang bekerjasama dengan Balitbangdias. Kegiatan ini menambah keahlian para pembudidaya ikan hias. Masyarakat dapat memanfaatkan teknologi ini cukup singkat hanya memerlukan waktus ekitar 2 – 4 bulan saja kualitas warna ikan koi sudah menunjukkan perbedaan yang signifikan hingga 73% pada Grad I dan Grad II dibandingkan dngan pakan komersil yang hanya dapat meningkatkan kualitas warna sekitar 15%. (Humas)