PERTINAS SBH, UPAYA REVOLUSI MENTAL

Upload by - Rabu, 26 Oktober 2016

Blitar – Perkemahan Tingkat Nasional Saka Bakti Husada (Pertinas SBH) V merupakan satu diantara kegiatan untuk revolusi mental.  Kegiatan yang bersifat positif ini bisa menjadi ajang pembentukan karakter disiplin, bertangung jawab, dan mandiri. Juga bisa saling kenal peserta dari seluruh penjuru tanah air dan saling tukar pengalaman. Demikian sambutan Menteri Kesehatan RI,  Prof.DR.dr.Nila F.Moeloek Sp.M(K) saat menghadiri kegiatan Pertinas SBH V di Bumi Perkemahan Serut, Jum’at, 21 Oktober 2016.

Menkes RI juga memberikan apresiasi  dengan berbagai kegiatan Pertinas SBH V di Bumi Perkemahan Serut mulai kegiatan fisik dan non fisik. Diharapkan, peserta Pertinas  menjadi kader kesehatan yang mandiri dibidang kesehatan, minimal mampu mencegah penyakit terhadap diri sendiri. Terkait kegiatan fisik seperti penghijauan dengan menanam pohon jati, Menkes menegaskan bahwa Indonesia telah  banyak kehilangan pohon jati. Menurutnya, pohon jati  sebagai simbul jati diri bangsa. Untuk itu, diharapkan bangsa ini benar-benar menjadi bangsa yang mandiri.

Menkes Canangkan Gema Pramantik

Menteri Kesehatan Nila Djuwita F Moeloek secara resmi mencanangkan Gerakan Bersama Pramuka Pemantau Jentik (Gema Pramantik) sebagai gerakan kesehatan nasional. Ini ditandati dengan dikukuhkannya kader Gema Pramantik secara simbolis di Bumi Perkemahan Serut, Jumat (21/10).

Gema Pramantik merupakan inovasi Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar bersama Dinas Pendidikan dan Pramuka Kwartir Cabang Blitar. Program ini mengoptimalkan peran serta seluruh masyarakat dalam pemberantasan nyamuk penyebab demam berdarah degue (DBD), terutama dari kalangan pelajar. Menkes sangat mengapresiasi program ini. Pasalnya, program ini sebagai gerakan revolusi dan reformasi kesehatan bagi masyarakat Indonesia untuk mandiri menjaga kesehatan dan kebersihan dirinya sendiri dan lingkungannya.

Dia menegaskan, jika Pramuka dilibatkan untuk memberantas musuh negara yang satu ini (nyamuk Aedes Aegypti),  akan meminimalisir korban Demam Berdarah.  Mengingat Pemerintah khususnya Kemenetrian Kesehatan melalui Dinas Kesehatan tidak mungin bisa melakukan pemantauan jentik secara maksimal di setiap rumah penduduk. Gema Pramantik ini merupakan cara yang sangat efektif dan efisien untuk mencegah perkembangan nyamuk Aedes Aegypti karena masyarakat berperan aktif di dalamnya.  Ditegaskannya, pihak Kemenkes dalam waktu dekat akan melakukan sosialisasi gerakan nasional itu ke seluruh penjuru negeri, menumbuhkan kesadaran bagi tiap pemilik rumah untuk menjaga kebersihan lingkungannya sendiri.

Menkes mengingatkan, penyakit yang melanda suatu wilayah bisa menyebabkan perekonomian jatuh. Harus disadari bahwa penyakit bukan saja dari virus, kuman namun juga hewan. Dan ini merupakan tantangan yang harus diselesaikan. Menkes mengakui, saat ini pemberantasan nyamuk masih menjadi konsentrasi utama Kementrian Kesehatan, karena iklim negara Indonesia sangat berpengaruh dalam proses perkembangannya. Dengan pemantauan jentik yang konsisten dilakukan tiap minggu , diharapkan dari setiap rumah yang menjaga kebersihan dapat berkembang menjadi kebersihan dan bebasnya lingkungan dari perkembangan jentik nyamuk. Menurutnya, memang  perlu tindakan preventif untuk memantau supaya jentik ini tidak tumbuh berkembang menjadi nyamuk. Untuk itu harapannya, Perinas SBH harus dilanjutkan.

Sementara itu Bupati Blitar, H.Rijanto dalam sambutannya mengungkapkan rasa bangga
jika hasil pemikiran Kabupaten Blitar bisa bermanfaat untuk masyarakat lain di seluruh Indonesia.

Menurutnya, program Gema Pramantik harus ditingkatkan sebagai upaya preventif pada perkembangbiakan nyamuk, sehingga  bisa sebagai upaya mencegah penyebab penyakit demam berdarah. Karena jika represif justru hanya pemborosan dan sarang nyamuk tidak bisa bersih tuntas. Ini satu-satunya cara yang mudah, murah dan meriah.

Seperti diketahui, pada tanggal 24 September 2013 diadakan rapat lintas sektor yang terdiri dari Kementerian Agama, Dinas Pendidikan, Dinas   Kesehatan,  dan Kwarcab Pramuka Kabupaten Blitar. Dan menghasilakan sebuah gagasan, perlunya gerakan bersama dengan pramuka dalam pemberantasan nyamuk. Pada rapat selanjutnya, menghasilkan nama  gerakan bersama pramuka  pemantau jentik (Gema Pramantik) dan perlu segera disosialisasikan  serta dilaunching.  Pada tanggal 28 Oktober 2013,  diadakan rapat lintas sektor  dari  seluruh wilayah kecamatan  yang ada di Kabupaten Blitar dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Blitar  yang menghasilkan keputusan bahwa Gema Pramantik harus segera disosialisasikan dan ditetapkan bahwa launching  akan dilaksanakan pada 19 Nopember 2013. Pada tanggal tersebut,  telah dilaunching Gema Pramantik, di Lapangan Tawangsari Garum dalam apel besar Pramuka dan dianggap tanggal 19 Nopember 2013 sebagai lahirnya Gema Pramantik.  Kegiatan Gema Pramantik  adalah setiap insan Pramuka  melakukan pemantauan jentik pada  pada setiap rumah  yaitu rumahnya sendiri, rumah kanan dan kiri, rumah depan belakang. Kegiatan ini dilakukan seminggu sekali dan dicatat untuk selanjutnya dilaporkan kepada wali kelas atau pihak sekolah.

Dalam acara tersebut, Menkes memberikan apresiasi kepada pencipa lagu Mars Pertinas, Kepada dr.Diah Retno. Menkes juga  menyaksikan Pramuka Siaga dari SDN Kanigoro 3 menampilakn drama Gema Pemantik yang menceritakan bagaimana pramuka memantau jentik nyamuk di rumah. Juga disambut polisi cilik dari SDN Babadan 1 Wlingi. Sebelumnya, orang nomor satu di Kementerian Kesehatan bersama rombongan  mengunjungi perkemahan kegiatan Pertinas SBH V, juga mengunjungi stand-stand UMKM yang produk Kabupaten Blitar di lokasi tersebut.(Humas)