Lumpuhnya Pendidikan Tanpa Teknologi (Pendidikan vs Covid-19)

Lumpuhnya Pendidikan Tanpa Teknologi

(Pendidikan vs Covid-19)

 

BLITAR KAB – Pandemi Virus Corona atau Covid-19 hingga saat ini masih menjadi perbincangan utama di masyarakat maupun dunia maya. Setiap siaran berita di televisi tidak terlepas dari pemberitaan Covid-19 yang melanda hampir diseluruh dunia ini. Hampir satu tahun lamanya dunia digemborkan dengan muncul dan tersebarnya virus ini dengan cepat. Sehingga masyarakat kota hingga pelosok sudah tidak asing lagi dengan virus ini, bahkan pandemi Covid-19 ini telah menyerang dari segala aspek kehidupan. Termasuk di Indonesia, virus yang masuk di Indonesia awal tahun ini, mengakibatkan terganggunya seluruh sistem dan kehidupan masyarakat menjadi lebih buruk.

Dampak pandemi ini dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia, baik dari segi ekonomi, sosial bahkan hingga ke ranah pendidikan.  Adanya pandemi ini mengakibatkan kurangnya interaksi antar individu karena adanya pemberlakuan protokol kesehatan yang mengharuskan menjaga jarak dan menghindari kerumunan.

Namun, pada era 4.0 saat ini, masyarakat dimudahkan berkomunikasi dengan menggunakan media digital yang semakin canggih. Sehingga hal ini tidak mengurangi adanya jalinan silaturahmi antar manusia. Lalu bagaimana dengan masyarakat yang ada di plosok desa? yang notabenenya segala hal berkaitan dengan sistem jaringan internet sangat sulit, berbeda dengan di perkotaan yang dimudahkan dengan adanya fasilitas pendukung untuk beraktivitas di masa Pandemi Covid-19.

Salah satu desa di wilayah Blitar selatan, pandemi ini sangat dirasakan oleh mereka yang tinggal di daerah terpencil terutama untuk para siswa-siswi yang ingin meingirim tugas sekolah harus naik ke atas bukit karena terkendala adanya sinyal jaringan.

Selain fasilitas yang kurang mendukung, minimnya wawasan penduduk sekitar mengenai kegunaan teknologi informasi menjadikan hambatan.  Padahal pendidikan adalah salah satu sumber pengetahuan dasar agar dapat menambah ilmu dan wawasan yang bermanfaat bagi mereka.

Faktor inilah yang dikeluhkan Pak Narto selaku wali murid SD Ngadipuro 03, Dia mengungkapkan jika di daerahnya susah untuk mendapatkan sinyal. Sehingga diperlukan pemasangan wifi agar sinyalnya bisa kuat dan lancar. Pak Narto juga mengeluhkan jika jarak rumahnya dengan wilayah perkotaan sangatlah jauh, diperlukan waktu satu jam untuk perjalanan menuju ke kota.

“Disini sinyal susah mbak, punya hp harus pasang wifi biar internet lancar. Kalau mau telpon saja sulitnya minta ampun. Cari sinyal dulu biar enak. Mau ke kota juga jauh mbak, perjalanan 1 jam lebih. Mau berangkat saja sudah malas. Sampek sana malas pulang, mau kesana malas berangkat. Dilema kan ya?” kata Pak Narto.

Tanggapan yang sama juga disampaikan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar yang diwakili oleh bapak Deny selaku Bagian Kasubag Penyusunan Program dan Plt. Kasubag Umum dan Kepegawaian yang mengatakan bahwa Dinas Pendidikan sebenarnya juga sadar dan memahami kondisi masyarat serta selalu mengupayakan yang terbaik baik bagi masyarakat terutama pendidikan. Hal ini  dikarenakan pendidikan dasar merupakan tonggak utama dalam mencerdaskan masa depan bangsa.

“Kami dari Dinas Pendidikan berupaya penuh untuk memaksimalkan pendidikan di Kabupaten Blitar ini. Ekonomi masyarat yang tidak merata juga menjadi pertimbangan kami didalam mengambil keputusan. Sekolah dirumah dengan memanfaatkan TI juga tidak semua mampu untuk membelinya. Strategi kami Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar mengupayakan agar pendidikan tetap berjalan walaupun dengan berbagai keterbatasan, salah satunya dengan cara orangtua siswa yang tidak punya fasilitas pendukung belajar di rumah (HP) dapat langsung ke sekolah untuk mengambil buku tugas anaknya ataupun kami juga berikan keleluasaan guru untuk datang langsung ke rumah siswanya yang tidak mampu mengakses pembelajaran jarak jauh,” ujar Bapak Deny.

Dampak adanya pandemi Covid-19 ini juga mengharuskan masyarakat utamanya pada seluruh pelajar di Indonesia untuk melakukan adaptasi budaya baru yakni belajar dengan budaya daring/online, dimana setiap aktivitas belajar mengajar yang biasanya dilakukan dengan tatap muka terpaksa diganti dengan sistem daring.

Tentu saja kondisi seperti ini menjadi masalah untuk orang tua maupun pelajar yang hidup di pelosok pedesaan, seperti halnya yang dialami oleh salah satu ibu yang bernama Bu Karmi. Ia mengeluhkan akibat adanya pandemi, anaknya  yang seharusnya belajar di sekolah bersama bapak ibu guru kini hanya di rumah saja dan justru hanya bermain saja. Hal ini dikarenakan para orang tua wali kurang memahami pelajaran anak-anaknya saat ini.

“Semenjak adanya pandemi ini mbak, anak-anak susah di kontrol. Mereka malas belajar akibat adanya pandemi ini mbak, yang seharusnya masih belajar disekolah bersama bapak ibu gurunya malah orang tuanya sekarang yang disuruh ngajarin anaknya mana pelajarannya beda lagi dari yang jaman saya sekolah dulu,kata Bu Yuli.

Penyebab kurang terserapnya aturan pendidikan di era pandemi menjadi pemicu beberapa masalah baru yang dihadapi oleh masyarakat di wilayah pelosok dan terpencil, di mana mereka kurang bisa beradaptasi dengan budaya baru atau pola hidup baru.

  1. Kelompok masyarakat dengan daya beli rendah

Masyarakat pada tingkat ekonomi rendah ini sangat sulit untuk menerima perubahan atau update teknologi informasi yang harus disesuaikan dengan adanya pandemi ini. Sebenernya mereka ingin tahu kemajuan dunia saat ini, namun karena keterbatasan faktor ekonomi terpaksa mereka harus bersabar.

  1. Kelompok masyarakat dengan daya beli tinggi

Masyarakat pada tingkat ekonomi tinggi cenderung lebih konsumtif dan mengikuti perkembngan jaman yang ada saat ini, apalagi di tengah pandemi yang sedang mewabah saat ini malah dijadikan mereka alasan untuk hidup penuh gaya tanpa mengerti tujuan dan manfaat dari adanya suatu teknologi yang ada saat ini. Para orang tua yang mempunyai biaya untuk membelikan anaknya gadget tapi malah tidak mengontrol penggunaan teknologi tersebut.

Pada teknologi informasi salah satunya gadget, sebenernya ada banyak sekali sisi positif dan sisi negatif yang dapat diperoleh tergantung kebijakan dari masing-masing pengguna teknologi tersebut. Sisi positif dari gadget ialah meningkatkan pengetahuan, meningkatkan kenyamanan dalam belajar dan tersediannya teknologi yang lebih canggih. Adapun sisi negatif dari penggunaan gadget diantaranya tidak fokus belajar, mengganggu kesehatan dan risiko penyalahgunaan fungsi gadget untuk kejahatan (ykbkb, 2019). Adanya sisi positif dan negatif tersebut seharusnya lebih diperhatikan oleh para orang tua wali murid dalam pendidikan pertama anak-anak mereka. Apalagi di era pandemi ini sebagian besar aktivitas anak dilakukan di rumah mereka masing-masing.

Penulis M. Windy Linggar Yanti, selaku mahasiswi STIE Kesuma Negara Blitar.

 

Lampiran foto wawancara dengan Dinas Pendidikan.

 

Lampiran Foto Wawancara dengan Pak Narto selaku Orang Tua Wali Murid SDN Ngadipuro 03.

 

 

Lampiran Foto Wawancara dengan Bu Yuli selaku Orang Tua Wali Murid SDN Ngadipuro 03.

 

 

 

Komentar