KUNJUNGAN UNIVERSITY YOHOKU DAN UNIVERSITAS INDONESIA BUPATI BLITAR: HASIL RISET BISA BERMANFAAT UNTUK MASYARAKAT DUNIA

Upload by - Sabtu, 03 Desember 2016

Blitar – Bupati Blitar H.Rijanto menerima kunjungan dari University Yohoku dan Universitas Indonesia, Kamis (1/12)  di Pendopo Agung Ronggo Hadinegoro. Tujuan kunjungan tersebut terkait dengan  hasil riset yang telah diteliti oleh University Yohoku dan Universitas Indonesia tentang Perilaku Mengungsi Dan Diseminasi Informasi Peringatan Pada Kejadian Erupsi Gunung Api Kelud. Dalam penelitian itu disebutkan bahwa survey dilaksanakan dua kali, yakni survey I pada erupsi Kelud pada Tahun 2007 dan survey II pada erupsi Kelud Tahun 2014. Ini dilakukan di dua kabupaten yaitu Kabupaten Kediri dan Kabupaten Blitar, mengingat kedua kabupaten ini yang paling berdampak langsung terhadap erupsi Kelud. Hasilnya, perangkat desa mempunyai peran besar dalam pengambilan keputusan bagi para warga terdampak untuk mengungsi atau tidak termasuk dalam hal penyampaian informasi. Atau dengan kata lain perangkat desa/dusun sangat konsisten serta dominan dalam menangani kebencanaan.

Dicky Pelupessy, Disaster Research and Response Center Universitas Indonesia (DRRC UI) dalam paparannya menjelaskan, responden survey dilakukan kepada 211 responden dari warga terdampak di Kabuapten Blitar. Informasi AWAS menjelang erupsi ini 54,5% mendapatkan informasi dari perangkat desa termasuk keputusan atau perintah mengungsi sebanyak 66,5% dari perangkat desa/dusun. Media yang digunakan untuk menyampaikan informasi beraneka cara antara lain, Pengeras suara masjid, Handy Talky (HT), Info dari mulut ke mulut, Pengeras suara keliling, kentongan, Perangkat Desa/ Dusun. Disamping itu juga menggunakan handphone.  Ini menunjukkan peran perangkat desa/dusun memang sangat tinggi. Mengingat cara penyampaian informasi kepada warga terdampak disesuaikan dengan budaya lokal.

Hal senada juga disampaikan oleh Yasuhito Jibiki Ph.D, Assistant Professor International Research Institute of Disaster Science dari Tohoku University. Melalui penerjemahnya, Yasuhito Jibiki menyampaikan selama 7 tahun dia bolak balik Jepang-Indonesia untuk menyelesaikan penelitiannya. Dia menilai, peran pemerintah daerah sampai ketingkat pemerintahan desa sangat bagus. Ada kerjasama yang kompak, termasuk dengan PMI, para relawan yang terdiri dari berbagai elemen.  Harapannya, hasil riset yang dikerjakan oleh Tohoku University dan Universitas Indonesia membawa manfaat. Menurutnya, riset ini merupakan bagian dari pendidikan kebencanan.

Terkait hal itu, Bupati Blitar, H.Rijanto menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Tohoku University dan Universitas Indonesia. Hasil riset kedua lembaga pendidikan di dunia ini diharapkan benar-benar memberi manfaat kepada masyarakat, bukan saja masyarakat Blitar namun juga masyarakat dunia. Orang nomor satu di Kabupaten Blitar ini juga menceritakan kejadian erupsi Kelud 2007 dan 2014. Sebelum erupsi ditahun-tahun tersebut, diakui ada korban. Berkaca dari pengalman tersebut, pemerintah daerah bersama masyarakat, relawan, sebelum sampai dengan pasca erupsi Kelud khususnya erupsi Kelud 2014 sangat kompak dan sangat siap terhadap erupsi Kelud.  Dengan kekompakan, kesiapsiagaan seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Blitar yang juga dibantu oleh TNI/POLRI dapat meminimalisir korban erupsi Kelud.

Pada kesempatan tersebut, diacarakan penyerahan hasil survey dari Tohoku University dan Universitas Indonesia. Selain itu, Bupati Blitar juga menyerahkan 95 kaos dan uang pembinaan sekitar 7,5 juta rupiah kepada Relawan Erupsi Kelud, Lembu Suro. Relawan ini saling bahu membahu dengan tim relawan lain serta masyarakat ikut mensukseskan upaya penyelamatan warga terdampak pra sampai dengan pasca erupsi Kelud.(Humas)