BUPATI BLITAR BERHARAP UPACARA ADAT SIRAMAN GONG KYAI PRADAH BISA MENJADI WARISAN BUDAYA YANG DIAKUI HINGGA DI TINGGKAT NASIONAL

Upload by - Selasa, 29 Januari 2013

Ribuan warga saling berebut air bekas siraman pusaka Gong Kyai Pradah di Alun-Alun Lodoyo. . Mereka meyakini air tersebut bisa membuat awet muda dan cepat mendapat jodoh. Prosesi siraman Gong Kyai Pradah ini diawali dengan mengarak gong keliling alun-alun diiringi kesenian kuda lumping. Setelah diarak keliling, gong dengan diameter sekitar 55 cm ini kemudian dibawa ke panggung di tengah-tengah alun-alun. Gong Kyai Pradah kemudian digantung tepat di tengah kemudian seorang juru kunci membuka kain putih pembungkus gong. Ini sekaligus menandai dimulainya prosesi siraman yang dilakukan oleh Bupati Blitar Herry Noegroho. Puncak prosesi ini adalah menyiramkan air bekas cucian gong kepada kerumunan ribuan warga yang memadati Alun-Alun Sutojayan. Sebagian warga bahkan membawa botol air untuk diisi sebanyak mungkin untuk diminum ditempat maupun dibawa pulang. Bupati Blitar Herry Noegroho mengatakan, tradisi ini sudah turun menurun dilaksanakan sejak ratusan tahun silam setiap bulan Maulud.  Selain untuk melestarikan budaya, upacara adat siraman Gong Kyai Pradah ini juga diproyeksikan sebagai objek wisata sejarah di Kab. Blitar. Tidak hanya untuk menarik wisatawan lokal namun juga asing. Bahkan kedepannya Bupati berharap tradisi siraman Gong Kyai pradah ini bisa menjadi warisan budaya berikut agenda wisata budaya tahunan yang diakui hingga di tinggkat Nasinal. Selain upacara adat siraman Gong Kyai Pradah, usai prosesi berlangsung warga juga berebut  2 tumpeng berukuran besar yakni tumpeng lanang dan tumpeng wadon. Mereka menyakini tumpeng tersebut juga membawa berkah bagi yang memakannya. ( Irma Yuniar )