PEDULI KUSTA, ASOSIASI WALIKOTA BELANDA KUNJUNGI KABUPATEN BLITAR
Upload by - Rabu, 15 Mei 2013
Beberapa Walikota dari Belanda yang tergabung dalam Kesebelasan Asosiasi Walikota Belanda mengunjungi penderita kusta di Kabupaten Blitar, Rabu (15/5). Kunjungan sejumlah Walikota tersebut ingin mengetahui secara langsung proses pengobatan dan kegiatan penderita kusta di Kabupaten Blitar. Pasalnya, melalui yayasan Netherlands Leopropsy Relief (NLR) mereka membantu para penyandang kusta. Jadi artinya, bantuan itu sudah sesuai dengan peruntukkannya atau belum. Demikian diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar ,Kuspardani.
Jos Van Heijmans, Ketua Rombongan dalam sambutannya di Puskesmas Sutojayan mengaku sangat senang dengan sambutan Warga Blitar. Dalam usianya yang ke-25 yayasan NLR telah mampu mengumpulkan dana sekitar 1 miliar USD. Dana ini untuk membiayai penderita kusta diseluruh dunia termasuk di Kabupaten Blitar. Dituturkan pula, dia dan rombongan sangat surprise melihat kegiatan para penderita kusta tersebut. Para penderita ini dinilai bisa merasa percaya diri, tidak merasa dikucilkan oleh masyarakat. Ini terbukti mereka bisa berkarya. Hasil karya mereka antara lain kerajinan tangan berupa taplak meja sulam dan accecoris. Bahkan para rombongan ini sempat membeli hasil karya para penyandang kusta. Mereka juga disuguhi cara penyembuhan penyakit kusta, antara lain, rendam, gosok, dan minyak. Para penderita kusta itu juga mempraktekkan latihan diri yakni senam tangan.
Dalam kesempatan yang sama, rombongan yang terdiri dari sekitar 32 orang ini juga mengunjungi Desa Karangsono, Kecamatan Kanigoro, rumah penderita kusta yang produktif. Antara lain Imam Tabroni yang pernah menderita kusta dari tahun 1988 hingga 1990 ini telah mempunyai usaha kolam ikan lele, gurami serta toko khusus peralatan rumah tangga. Dana untuk mengembangkan usaha ini, menurut pangakuan Tabroni berasal dari bantuan yayasan tersebut yakni sekitar 2 juta. Selain itu mereka juga mengunjungi kediaman Nurazizah yang memiliki usaha budidaya kambing, dan Taukhid yang memiliki usaha budidaya buah belimbing yang kemudian dijadikan manisan dan didistribusikan beberapa toko di Blitar. Melihat beberapa lokasi para penderita kusta ini, rombongan yang didampingi Asisten Pemerintahan dan Kesra Kabupaten Blitar, Achmad Husein, mengaku sangat bangga.
Sebelum meninggalkan Kabupaten Blitar, rombongan yang juga didampingi dari Kementerian Kesehatan RI dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur bertemu dengan Bupati, Wakil Bupati dan beberapa Kepala SKPD di Pendopo Kabupaten Blitar. Rombongan disambut tari khas jaranan oleh beberapa siswa SD, kemudian rombongan juga melihat display pembuatan batik tutur khas Blitar, pembuatan tas tempurung kelapa, dan pameran keris di pendopo.
Ketua rombongan, juga sempat mengatakan, bahwa asosiasi itu juga mendirikan tim kesebelasan sepak bola. Hasil bermain mereka disumbangkan untuk kegiatan bidang kesehatan, satu diantaranya bagi penderita kusta. Bahkan Bupati Blitar ditantang untuk bermain melawan tim kesebelasan mereka.
Dalam sambutannya orang nomor satu di Kabupaten Blitar ini mengatakan, merupakan kehormatan bagi Kabupaten Blitar menerima rombongan dari kesebelasan Asosiasi Walikota Belanda. Bupati juga mengucapkan terima kasih kepada rombiongan, karena telah membantu pengobatan, perawatan pada orang yang pernah mengalmi kusta (OYPMK), karena bantuan tersebut mereka bisa mandiri.
Dijelaskan pula, secara epidemiologi, Kabupaten Blitar merupakan daerah yang tergolong low endemic kusta. Penemuan penderita baru, satu tahun rata-rata 20-25 orang. Sedangkan proporsi cacatan tingkat 2 yang dijumpai masih tinggi, yaitu sekitar 16%. Ini merupakan tantangan bagi program pengendalian kusta di Kabupataen Blitar. Menurut Bupati, upaya yang dilakukan untuk menurunkan angka proporsi tingkat cacat 2 antara lain, melakukan penyuluhan kusta, baik oleh petugas kesehatan maupun dengan melibatkan orang yang pernah mengalami kusta, selain itu meningkatkan ketrampilan petugas medis dalam deteksi dini penyakit kusta. Bahkan membentuk kelompok perawatan diri (KPD).
Dalam paparannya, Bupati Blitar juga menjelaskan, terdapat dua kelompok KPD yaitu Ngudii Karsa Husada yang berlokasi di Puskesmas Sutojayan dan KPD Ngudi Karunia Sejahtera di Puskesmas Srengat. Ini dikembangkan menjadi Self Help Group sebagai upaya memandirikan orang yang pernah mengalami kusta dengan bantuan pendamping dari yayasan peduli penyandang cacat kusta.
Bupati juga berharap, kegiatan sosial dari para Walikota Belanda ini menjadi awal dimulainya kerjasama yang lebih luas antara pemerintah kota-kota di Belanda dengan Pemerintah Kabupaten Blitar dalam bentuk sister city, yang meliputi bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, kebudayaan dan lain-lain.
Seperti diketahui, program bantuan pada penderita kusta sendiri sudah diberikan sejak tahun 1994 di Indonesia termasuk di Kabupaten Blitar. Bantuan itu berupa dana operasional penanganan penderita kusta dan juga pelatihan tenaga medis yang membantu penyembuhan penderita kusta. Tujuannya, para penderita kusta terutama yang sudah cacat fisik bisa hidup secara mandiri, melakukan pengobatan sendiri.
Sekedar mengingatkan, penderita kusta di Kabupaten Blitar menurut Eko Wahyudi, Kasi P2 Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar tercatat, dari Tahun 2005 sampai 2012 yakni berjumlah 189 orang yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Blitar. (humas)